Artikel dan Tulisan Lepas | |
Setitik kekaguman dengan seorang Haji Syahrul Yasin Limpo dimata Warga Sulawesi Selatan di Bali oleh Haji Zainal Tayeb dan Andi Udin Saransi Undangan Pelantikan Gubernur Sulawesi Selatan telah diterima KKSS Bali melalui Faximilie dan akan hadir: 1. Ketua KKSS Bali : Haji Zainal Tayeb 2. Wk. Ketua KKSS Bali : Haji Masrur Latanro 3. Sekretaris KKSS Bali : Andi Udin Saransi Berangkat dari Bali Senin Tgl. 7 April 2008 dengan pesawat terakhir, Lion Air jam 8 malam. Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan yang disingkat KKSS merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang menghimpun Warga Sulawesi Selatan yang berada di perantauan luar provinsi Sulawesi Selatan, yang salah satunya berkedudukan di Provinsi Bali dengan operasional oleh Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Provinsi Bali yang disingkat dengan BPW KKSS Bali. Jauh sebelumnya, sekitar tahun 1620 sudah ada kontak antara orang-orang Bugis dan Bali, namun baru menetap dan beranak cucu di Bali sekitar 350 tahun lalu. Setelah sekian lama cita-cita terpendam KKSS Bali yang menghimpun elemen dan Warga Sulawesi Selatan yang ada di Bali, baik yang sudah turun temurun yang saat ini masih dapat disaksikan yaitu turun ke – 9, maupun yang merantau setelah zaman kemerdekaan, bersatu dalam silaturrahim yang dilaksanakan pada Hari Ahad, 3 April 2005 silam. Tanggal 3 April 2005 tersebut, Warga Sulawesi Selatan tidak pernah bermimpi bahwa perhelatan akbar tersebut akan dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan yang waktu itu adalah Bapak Haji Syahrul Yasin Limpo. Dengan daya tarik seorang pemimpin memompa semangat dan spirit juang sebagai orang pelaut yang ulung Bugis Makassar yang sudah sangat terkenal. Keikhlasan untuk hadir ditengah-tengah Warga Sul-Sel pada tahun 2005 silam serta Motivasi pak Syahrul Yasin Limpo memberikan tempat tersendiri dihati masyarakat Sulawesi Selatan yang ada di Bali, demikian pula saat jamuan, tidak sungkan-sungkan bergabung dengan warga yang duduk lesehan, dengan cara tesebut semakin menokohkan dan mendekatkan beliau sebagai seorang pemimpin bagi warga Sul – Sel di Bali. Ketika maju sebagai calon Gubernur saat pemilihan 2007 silam sampai dengan penetapan beliau sebagai Gubernur, maka secara moril warga Sul Sel di Bali walaupun tidak memilih langsung tapi menitipkan suaranya kepada sanak famili dan keluarga di Sulawesi Selatan. Walaupun KKSS Bali secara struktural tidak berafiliasi dengan politik maupun partai, tapi warga mendesak untuk menyampaikan secara terbuka bahwa KKSS Bali menentukan pilihan dukungan pada Haji Syahrul Yasin Limpo. Dengan hal tersebut, maka KKSS Bali menyampaikannya secara terbuka melalui internet maupun mass media sebagai wujud dukungan aktif KKSS Bali terhadap pak Syahrul. Saat penetapan oleh KPUD Sulawesi Selatan yang memberikan kemenangan, maka satu-satunya KKSS yang menyampaikan ucapan selamat melalaui Televisi yang diiklankan di TVRI Makassar ucapan selamat dari KKSS Bali atas kemenangan Sayang. Menghilangkan rasa penat dan capek di bulan November 2007, pak Syahrul dan keluarga dijamu KKSS Bali di Hotel Villa Lumbung, Petitenget Kuta Bali, salah satu hotel yang dimiliki Haji Zainal Tayeb yang juga Ketua KKSS Bali, pada saat tersebut bersamaan dengan kehadiran teman Sekolah pak Syahrul Jenderal Gorri Mere dan juga ada Menteri Pemuda dan Olah Raga Adyaksa Dault yang membuat suasana kekeluargaan khas Sulawesi Selatan di Bali. Selama rehat tersebut, pak Syahrul bersama istri, anak dan cucu yang didampingi langsung Ketua KKSS Bali Haji Zainal Tayeb dan Sekretaris Andi Udin Saransi Sekretaris mendampingi bahkan menyetir mobil selama di Bali. Kesederhanaan seorang Syahrul sangat nampak selama mendampingi beliau, beberapa pengalaman yang terlihat, seharian jadwal acara penuh, ketika beliau dimobil Sekretaris KKSS Andi Udin Saransi yang menyetir mengajak bicara berkali-kali, tapi tidak dijawabnya, cucu beliau berbisik “om, kakek sholat”. Ya saat itu waktu Ashar semakin sempit jelang magrib, “tadi tayammun dan sholat dijama’ah karena masih musafir” ujar beliau pelan. Kami sangat terharu, disela waktu yang sempit, cahaya ilahi bersinar dilubuk hati yang dalam, alhamdulillah. Demikian pula ketika jedah di Kuta, komunitas warga Sulawesi Selatan sering terkonsentrasi ditempat ini sebagai anak pantai, pak Syahrul setiap 2 – 3 langkah ada saja yang nyapa dan menyalami, bahkan ada yang merangkul. Lalu pak Syahrul bertanya, kok banyak yang nyapa dan salami. Sekretaris KKSS Andi Udin Saransi menjelaskan, bahwa KKSS Bali pro aktif menyampaikan info kepada warga dan yang menyalami dan yang menyapa itu adalah warga KKSS Bali. Warga Sul Sel sangat terharu ketika KKSS mengedarkan cuplikan berita Tribun Timur dan Fajar, ketika pak Syahrul ditengah-tengah puncak kesibukannya di hari H pemilihan Gubernur menyempatkan diri bersimpuh dan minta do’a restu kepada ke orangtua, ciri seorang anak yang berhati mulia. Seorang warga dengan histeris restu orangtua restu kami semua dan insyaallah Allah SWT meridhoi. Alhamdulillah hari ini, Selasa 8 April 2008 Jam 10.00 WITA di Lapangan Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan insyaallah prosesi pelantikan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan akan dilaksanakan. BPW KKSS Provinsi Bali dan keluarga besar Warga Sulawesi Selatan dan Barat yang ada di Bali, dengan iringan do’a semoga Allah SWT merahmati jabatan Gubernur dan Wakil Gubenrun Sulawesi Selatan kepada Bapak Haji Syahrul Yasin Limpo dan Bapak Haji Agus Arifin Nu’man dan mengantarkan Sulawesi Selatan kedepan sebagai gerbang Indonesia Timur, amin. Denpasar, 7 April 2008
 oleh: Andi Udin Saransi, Sekretari Umum BPW KKSS Provinsi Bali Alhamdulillah, bahwa ini bukti nyata orang Bugis dimana-mana dapat diterima, sebagaimana ditulis Ahsan dengan judul Suku Bugis, dari Sul Sel sampai tanah Melayu di http://glensinemart.multiply.com, kita sebagai anak bangsa khususnya orang-orang Bugis patut memberikan apresiasi positif, dan penghargaan atas tulisan Ahsan tersebut, namun alangkah baiknya tidak jauh dari apa yang kita miliki sendiri sebagai orang Bugis. Tidaklah salah kalau Ahsan menulis ...... Umumnya warga Bugis mudah sekali beradaptasi dengan daerah yang mereka tinggali. Hal itu tidak terlepas dari falsafah hidup mereka ‘Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung’. Artinya, bahwa orang Bugis bisa menyesuaikan diri dimana pun mereka berada. Tidak heran, Orang Bugis di Malaysia, akan menjadi orang Melayu, begitu juga di Singapura dan Brunai. Tapi hemat kami, itu tidaklah cukup bagi orang bugis, sebelum merantau pesan dari tetua di tanah Bugis, "bawa diri baik-baik jadilah seperti air". Ya... orang Bugis itu identik dengan air. ..... lagu Nenek moyangku seorang pelaut ....., identik dengan air, massompe/ berlayar merantau tidak lepas dengan air, sehingga kadang kita orang bugis diberi gelar manusia bahari, pecinta air, pelaut ulung, bahkan ada yang mengatakan dimana ada air (laut) disitu ada orang bugis. Falsafah yang menjadi spirit orang Bugis adalah air, mungkin kurang tepat kalau pepatah "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung" dari Sumatera kita klaim sebagai falsafah Bugis sebagaimna diungkap Ahsan yang nota bene kita dari Pulau Sulawesi. Falsafah air oleh keluarga besar Orang Bugis dia pegang sampai detik ini. Pandangan dan keyakinan orang bugis dengan falsafah dan spirit airnya yang nyata kita lihat sehari-hari adalah: 1. Kalau sudah di air (ditengah laut) dimana berpegang bilamana badai datang, orang bugis sebelum berlayar faham betul bahwa kalau sudah ditengah laut hanya satu pegangan, Allah SWT, jadi kemana-mana tidak pernah takut yang ditakuti hanyalah Allah yang punya jiwa dan raga yang melekat pada diri orang Bugis. Begitu layar terkembang perahu mengarungi samudera luas tak bertepi, perjuangan mempertahankan hidup, ikhtiar dengan pengetahuan perbintangan, pengalaman melewati angin dan ombak, menarik layar ditengah belantara dan buasnya badai ditengah laut, setelah ikhtiar, usaha usai, kepada siapa lagi berpegang, hanya Allah yang ada disanubari. Dalam kehidupan sehari-hari diaplikasikan didarat dengan perjuangan menghidupi dan mempertahankan hidup dan keluarga, setiap mengais rezeki tidak pernah lupa pada sandaran hidupnya yaitu Allah SWT. 2.Air ditaruh dimana saja membentuk seperti tempatnya, taruh di baskom membentuk baskom, taruh dibejana bundar membentuk bejana, taruh dikolam bentuk segiempat, artinya orang Bugis selalu menyesuaikan diri dimana dia tinggal sehingga diterima dengan baik oleh lingkungan sekitarnya. = dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung  3. air memberikan kesegaran bilamana diolah dengan baik, untuk diminum dengan memasak atau disterilkan lebih dahulu, mengairi sawah dan ladang dengan bendungan yang baik dan lain-lain, artinya orang Bugis dengan falsafah air, bilamana diperlakukan dengan baik maka akan memberikan manfaat pada lingkungan sekitarnya, win-win solution, mereka diberi tempat maka akan membayar mahal pemberian itu bahkan nyawa taruhannya dengan menjadi laskar dan balatentara perang. 4. sebaliknya air juga bisa menjadi bencana dengan banjir bilamana tumpukan sampah menyumbat alirannya, hutan dibabat sehingga tidak ada penahan dan erosi yang tumpah ke sungai. Sama halnya orang Bugis kalau diperlakukan tidak senonoh maka sifat siri na pacce yang ada pada diri setiap orang Bugis secara naluri bangkit dan kadang badik akan berbicara sampai ajal menjemput untuk memperjuangkan keyakinan siri na pacce. Orang bugis secara turun temurun sebelum meninggalkan tanah Bugis, orangtua membekali segenggam tanah yang diambil di belakang rumah, begitu sampai ditempat perantauan, tanah tersebut disebar dan disatukan dengan tanah tempat ditinggali, artinya bahwa orang bugis menyatukan dua tanah yang menghasilkan sandang, pangan dan papan yang melekat dan mengalir dalam tubuhnya yang diambil dari saripati tempatnya dia pijak. Kalau pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung kadang hanyalah sebatas ungkapan atau lips service belaka, maka kalau orang Bugis falsafah dan spirit air, dimana dia berada jadilah air yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar, tapi juga ada batasan dan rambu-rambu yang menjadi komitmen moril, aja mupakasiri'i
 Nimmy adalah alumni Farmasi Universitas Hasanuddin, salah satu diantara sekian perempuan cerdas yang dimiliki KKSS Bali. Seabrek pengetahuan dan organisasi yang digelutinya, yang pasti Ibu Nimmy waktu zaman di SMA 1 Ujung Pandang dia termasuk aktifis di Kumpulan Sanggar seni budaya Batara Goa, dan sampai saat ini kemampuannya terus terasah apalagi kehadirannya sebagai Ketua Departemen Seni Budaya di KKSS Bali. Sejak menginjakkan kaki di Bali perempuan yang masih kental dengan logat dan bahasa Makassarnya ini kakalu berbicara sangat meyakinkan, hingga kadang lawan bicara harus takluk, kemampuan Bahasa Inggeris dan diplomatisnya adalah skill tersendiri yang dimilikinya. Allah memberikan kelebihan kepada Ibu Nimmy, dengan kemampuannya itu pula lelaki kekar dari Australia kepincut dan meminangnya hingga membuahkan seorang putri semata wayang yang dimilikinya sekarang. Suaminya bernama Barry J. Smith, dan namanya sebagai muallaf adalah Ibrahim kemudian oleh keluarga diberi gelar kehormatan dengan nama Daeng Naba. Barry J Smith Ibrahim Daeng Naba namanya, di KKSS Daeng Naba memimpin Departemen Pariwisata, Ekonomi dan Hubungan Luar Negeri, suatu departemen baru yang dibentuk KKSS Bali yang insyaallah akan dikukuhkan pada hari Ahad, 17 Februari 2008 yang dihadiri Bapak Wakil Presiden HM Jusuf Kalla. ya ... selamat bertugas Daeng Naba, sukses menyertai. (Hj. Dewi dan Andi)
 Jum'at, 4 Januari 2008, Menpora Adyaksa Dault sengaja terbang dari Jakarta menuju kediaman Ketua KKSS Provinsi Bali Haji Zainal Tayeb di Kompleks Mirah Village, pada kesempatan tersebut Menpora menyampaikan terimakasih kepada Ketua KKSS dalam hal pembinaan olah raga tinju profesional di Bali, dalam kunjungan tersebut diserahkan peralatan tinju sebagai wujud dukungan moril Menpora terhadap usaha H Zainal Tayeb dalam memajukan olah raga keras ini, dan juga menyampaikan rasa bangga " dengan sentuhan Uncle Zainal kita dapatkan juara dunia tinju saat ini yang dipegang Chris John" uca p Menpora saat konferensi pers di Dapur Alam Kuta .
Pada kesempatan yang sama, Menpora foto bersama dengan pengurus KKSS Bali, nampak dari kiri; Haji zainal Tayeb (Ketua KKSS Bali), Haji Masrur Latanro (Wk. Ketua) Andi Udin Saransi (Sekretaris) Menpora Adyaksa Dault dan Herman (Departemen Pendidikan Pemuda dan Olah Raga KKSS Bali). Sebelum naik ke mobil meninggalkan Mirah Village, Menteri yang berdarah Bugis Mamuju ini menyempatkan menulis dibuku tamu KKSS Bali dengan kalimat Ewako KKSS Bali dan membubuhkan tandatangan lengkap dengan namanya.
  Alhamdulillah, saat ini kami bertiga bersaudara sekolah di Solo, kami semua lahir dan besar di Bali, yang tertua Ami, dan aku sendiri Agung dan adik saya namanya Ade. Saya sangat senang waktu ikut memeriahkan acara pelantikan KKSS di Hotel Nikki saya dan adik ikut menari Gandrang-bulo, tarian khas dari Negeri leluhur tanah Bugis Makassar. Sekarang aku kangen kepingin main gandrangbulo, selain menari mengikuti irama juga kita berolahraga, kadangkala waktu latihan teman-teman minta terus latihan padahal keringat sudah bercucuran. Salam dari Solo
Ucapan selamat dari Wapres RI HM Jusuf Kalla kepada Ketua KKSS Bali H. Zainal Tayeb sebagai pemilik Hotel Vila Lumbung didampingi GM Vila Lumbung Nengah Puja. Dukungan moril atas kerja keras Saudagar Bugis ini menjadi contoh dalam kiprah menghidupkan pariwisata di Bali. Selamat dan Sukses. Bali 23 Desember 2007, Andi Udin Saransi dan Murdani Usman
Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan yang disingkat KKSS merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang menghimpun Warga Sulawesi Selatan yang berada di perantauan luar provinsi Sulawesi Selatan, yang salah satunya berkedudukan di Denpasar dalam Kepengurusan Wilayah KKSS Provinsi Bali. Jauh waktu sebelumnya sekitar tahun 1500 - 1600 sudah ada kontak antara orang-orang Bugis dan Bali. Adanya pengakuan sejarah dan bukti peninggalan, anak dari Raja Bugis dari Mamuju menikahi Putri Raja Bali sehingga lahir seorang Pemimpin yang disegani dengan nama La Sagala, Mara’dia ri Mamuju, peninggalan tersebut masih dipertahankan keberadaannya di Mamuju, sebuah keris dengan nama Badong yang merupakan warisan leluhur dari Kerajaan Bali untuk Kerajaan Bugis Mamuju. Pada waktu tertentu dikeluarkan, oleh orang-orang Bugis dan Bali menempatkannya dalam suatu ritual yang disakralkan, biasanya diarak dari tempat persemayangnya oleh orang-orang Bugis kemudian dibawah ke tanah lapang, disana disambut dengan tarian sakral oleh orang-orang Bali yang sudah turun temurun berada di Mamuju kemudian disembahyangi dengan ritual adat Bali. Pertautan Bugis dan Bali  Gambar diatas adalah saat Putra Raja Denpasar Tjokorda Ningrat bersama Isteri dan anak melakukan siarah dikuburan moyang Bugis di Bali sebagai bentuk penghormatan serta kekerabatan orang – orang Bugis dan Bali. Di Bali sendiri Orang-orang Bugis baru menetap dan beranak cucu di Bali sekitar 350 tahun lalu. Dalam tulisan ini pemaparan kata Bugis merupakan kata depan dalam penyebutan warga maupun kelompok suku yang ada, sehingga kalau ada dari Makassar, Mandar atau Toraja disebut Bugis, Bugis Makassar, Bugis Mandar, Bugis Toraja dan seterusnya, demikian pula kami di Bali dalam pemaparan tulisan ini, Bugis berarti komunitas orang-orang dari Sul- Selatan dan Barat Orang-orang Bugis sangat dikenal dengan jiwa kelautan yang patriot, memegang teguh prinsip siri, rasa malu. Dilandasi dengan patriotisme kebaharian dan prinsip siri maka dapat ditemui diseluruh nusantara adanya Laskar Bugis-Makassar, termasuk di Kerajaan Bali yang sampai saat ini tetap mendapat tempat di Kerajaan Bali. Dibalik kekerasan ada kelembutan yang tumbuh disetiap insan orang Bugis, petuah moyang Bugis Makassar Sipatuo sipatokkong – simali siparappekkeng yang berarti saling menghidupi dan saling mengangkat – yang terseret arus ditolong kepantai, harfiahnya saling tolong menolong sesama, bekerjasama dalam kebajikan. Pesan leluhur inilah yang dipegang sepanjang masa sehingga orang-orang Bugis mampu hidup berdampingan dengan siapa saja, termasuk selama 350 tahun lebih telah ditunjukkan dengan ma nyama braya (Bahasa Bali dibaca menyame braye artinya bersaudara) dalam lingkungan masyarakat Bali. Komitmen suku Bugis-Makassar telah ditunjukkan dalam menegakkan ajaran agama dengan menempatkan pemimpin yang sah dengan ikut mengambil bagian sebagai laskar dalam berperang mengamankan panji-panji kebesaran kerajaan Bali di masa lalu sampai sekarang. Di Bali, pusaka Bugis yang dipakai dalam membela dan mempertahankan wibawa kerajaan Bali berupa Bendera dan tombak perang yang berusia ratusan tahun yang dibawa dari Tanah Bugis masih tetap terpelihara dan berada di Denpasar Selatan, tepatnya di Jl. Sawerigading, Kampung Bugis Suwung Batang Kendal.  Pengukuhan KKSS di Bali dibawah Bendera Perang Laskar Bugis yang dipelihara sejak zaman dahulu, pada bendera tertulis huruf lontara Bugis dan huruf Arab yang membakar semangat juang sebagai pahlawan Pada event-event tertentu, biasanya perayaan Hari Besar Islam orang-orang Bugis di Bali melakukan silaturrahmi dan berkumpul dalam suasana Sulawesi Selatan dengan menampilkan adat dan budaya Bugis sebagai perekat dalam kehidupan bermasyarakat di Bali. Keberadaan orang-orang bugis di bali bertahan dan diakui eksistensinya karena selalu menjaga 3 faktor utama yang difasilitasi dalam organisasi kerukunan keluarga sulawesi selatan provinsi bali, yaitu: Menggiatkan keberadaan warga bugis yang telah berkiprah dan menyatu dalam kehidupan bermasyarakat untuk melestarikan kebudayaan dan keajegan bali (ajeg, bhs. Bali artinya mempertahankan). Merekatkan dan menjalin serta saling mengenal komponen masyarakat sulawesi selatan yang berada di bali dalam rangka meningkatkan kesadaran berbangsa sebagai warga negara indonesia yang berdiam di pulau bali. Meningkatkan kerjasama dan jalinan yang harmonis dalam tatanan kemasyarakatan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bali tanpa meninggalkan ciri dan kekhasan sebagai anak bangsa yang ditakdirkan mengalir darah bugis . Menemui Orang-orang Bugis di Bali tidaklah sulit, jalan-jalan ke daerah pesisir, pasti kita jumpai mereka. Kadangkala Pengurus KKSS ditanya, ada berapa Kepala Keluarga atau jumlah orang Bugis di Bali? Pengurus KKSS tidak bisa menjawab karena banyaknya, kalau menanyakan ada berapa kampung Bugis, jawabannya kurang lebih di Bawah ini: Kampung Bugis di Kota Denpasar: - Suwung - Pulau Serangan - Kepaon Kampung Bugis Kabupaten Badung - Tuban - Tanjung Benoa - Angantiga, Petang Kampung Bugis Kabupaten Tabanan: Pesisir Pantai Soka Kampung Bugis Kabupaten Buleleng - Sumber Kima - Lovina - Grokgak - Singaraja - Celukan Bawang - Seririt Kampung Bugis Karangasem dipesisir Ujung Kampung Bugis Kabupaten Jembrana: - Loloan - Cupel - Yeh Sumbul - Gilimanuk - Pesisir perbatasan Tabanan – Jembrana Denpasar, Bali. 3 Januari 2008
Suku Bugis dikenal karena jiwa kebahariannya yang mengesankan hidup dengan kekerasan, dalam artian bekerja keras untuk hidup. Orang Bugis diperantauan, khususnya di Bali disegani dan diakui keberadaannya, + 300 tahun lalu orang-orang Bugis merapat di Bali, ketika tahun 1849 (152 tahun lalu) salah satu kerajaan Bali di Jembrana tepatnya di Loloan dipimpin oleh seorang putra Bugis yang gagah berani bernama Pattimi, hal tersebut diakui dalam lontar yang dimiliki Tjokorda Denpasar dan ditulis oleh Belanda yang bernama C. Lekkerkerker, tahun 1919 dalam Bukunya bali en lombok, Overzicht der literatuur omtrent deze eilanden tot einde yang menyebutkan sebagai de match in handen van den boeginees Anachoda Pattimi; deze en de ovirege boegineesen te Loloan uitgemoord Jembrana (1849-1855). Bugis dan Bali sangat dekat, hubungan emosional dengan pertalian darah Putra Raja Bugis Mamuju yang menikah dengan Putri Raja Badung Bali sehingga lahir Raja Mamuju yang bernama La Salaga mara’dia ri Mamuju yang hidup pada Abad XVI, dokumen otentik masih dapat dilihat di kerajan Bugis Mamuju dengan adanya keris peninggalan dari Bali yang disebut Badong dan adanya kuburan Bali diatas Bukit Kampung Timbu, berjarak 5 Km dari Kota Mamuju, dan pada hari-hari tertentu masyarakat Bali yang kurang lebih 20.000 jiwa di tanah Bugis Mamuju melakukan ritual dan persembahyangan di Bukit tersebut. Orang Bugis juga dikenal karena keberaniannya dalam membela panji-panji kebesaran Kerajaan yang sah, beberapa kali peristiwa yang mengusik kerajaan Bali, maka laskar Bugis berada pada garis depan sehingga orang Bali menaruh hormat pada orang Bugis sampai sekarang. KKSS Bali sangat kompak mempertahankan kebiasaan tersebut, sehingga menjadi suatu kekerabatan yang tak ternilai harganya antara orang Bugis dan Bali. Dalam pertemuan Raja-raja se Nusantara di Bali, Ketua KKSS Bali Haji Zainal Tayeb didaulat oleh Ida Tjokorda Jambe Pemecutan, Raja Denpasar IX untuk menghadirkan Haji Andi Maksum Mara’dia ri Mamuju yang merupakan turunan Raja yang berdarah Bugis-Bali, pada saat tersebut Haji Zainal Tayeb menelepon Andi Maksum sehingga berbicara langsung dengan koleganya Raja Denpasar. Demikian pula saat senjata tajam yang digunakan perang puputan 100 tahun lalu untuk diarak, KKSS Bali mengeluarkan pusaka Bugis yang digunakan dalam perang melawan Belanda, benda pusaka tersebut masih tersimpan dengan rapi dan dijaga secara turun temurun oleh orang Bugis yang bermukim di Jl. Sawerigading Kampung Bugis Suwung Denpasar Selatan Bali. Sebagai bukti didudukkannya orang-orang Bugis di Bali maka komunitas Bugis dapat ditemui dan dikenal pemukimannya diantaranya di Kampung Bugis Tanjung Benoa, Kampung Bugis Suwung, Kampung Bugis Tuban, Kampung Bugis Pulau Serangan, Kampung Bugis Ujung Karangasem, Kampung Bugis Loloan, Kampung Bugis Buleleng dan lain-lain yang kesemuanya itu berada di pesisir pantai.  Falsafah air bagi orang Bugis di rantau khususnya di Bali menjadi spirit dan sangat dijunjung tinggi, petuah moyang selalau diingat yaitu pappasenna petta ketti, napuindo Petta Selewatang Rilau ri Cabenge Soppeng Sulawesi Selatan: “ de gaga-tu akkatenningetta ri tengana tasi’e saliwenna puangallata’ala yakkitenning, jaji maresopi limbang tasi na tollettu ri pottanang-e “ Kalau sudah di tengah laut (air) tidak ada pegangan kita selain berserah diri (tawakkal), Allah yang kita pegang (yang memberi keselamatan, rezeki dan lain-lainnya), jadi perlu perjuangan untuk bisa sampai dan bertemu dengan daratan (pesan turun temurun dari Sultan yang berkuasa di Timur Soppeng) Makna di balik itu sangat jelas bagi perantau Bugis bahwa kalau mau hidup dan bisa bertahan hidup maka peganglah filosofi tersebut sebagai spirit dalam berjuang mengarungi dunia ini sehingga cita-cita dan harapan untuk mnghidupi keluarga secara layak bahkan menjadi saudagar yang sering kita dengar selama ini. (H. Zainal Tayeb & Andi Udin Saransi)
| |